Kisah Tangisan Anak Diabadikan Jadi Nama Desa Kiawang di Kabupaten Sitaro Sulawesi Utara

oleh
Kapitalau (Kepala Desa) Kiawang Lolyta Linda Humapi. (ist)

SITARO, Manadonet.com- Nama suatu tempat biasanya muncul karena sebuah kejadian. Adakala kejadian itu memang benar adanya dan adapula kejadian itu hanya cerita rakyat saja. Di Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) beberapa nama desa memiliki asal-usul dari cerita rakyat. Salah satunya adalah Desa Kiawang Kecamatan Siau Barat Utara.

Kapitalau (Kepala Desa) Kiawang Lolyta Linda Humapi, menuturkan, menurut cerita legenda, para leluhur berkumpul membahas nama apa yang cocok untuk tempat yang mereka tempati kala itu. “Dari berembuk mereka bingung tidak ada kata sepakat untuk nama yang ideal,” jelas Lolyta.

Kemudian, lanjut kapitalau, saat para leluhur dilanda kebingungan, tiba-tiba terdengar suara tangisan bocah. Sontak saja, para leluhur mendekati bocah tersebut. Mereka pun menanyakan kepada bocah kenapa sampai menangis. “Jawab bocah kala itu, ia menangis meminta uang. Para leluhur seakan mendapatkan ilham. Mereka mengambil magna dari tangisan bocah tersebut. Dengan bahasa daerah Kia artinya menangis dan Wang adalah uang. Kedua kata ini digabungkan menjadi Kiawang,” urai Lolyta.

Kapitalau ketujuh belas Kiawang ini, mengungkapkan, nama Kiawang mulai digunakan pada tahun 1900 menyusul sudah ada sistem pemerintahan desa saat itu dipimpin oleh Yan Kamukanora. “Tahun 1959 Desa Kiawang Didefinitifkan dengan kapitalau Lodrik Kahimpong,” beber dia.

Lolyta menambahkan, saat ini Desa Kiawang memiliki jumlah penduduk 612 jiwa. Mata pencarian warga dinominasi oleh petani dan nelayan. “Warga Kiawang menganut agama Kristen Protestan,” pungkasnya.

Sekadar referensi, Desa Kiawang diapit oleh Desa Hiung dan Kawahang atau berjarak 8 kilometer dari Kota Ondong Ibu Kota Sitaro.(Jackmar Tamahari)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.