MANADONET.COM- Kedatangan puluhan massa yang melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Massa terlihat bertindak anarkis dengan mendorong, menendang, melempar botol air mineral ke arah petugas, hingga membakar ban di depan kantor wakil rakyat tersebut. Aksi tersebut pun langsung ditanggapi tegas oleh aparat keamanan yang telah bersiaga di lokasi.
Namun, situasi tersebut bukanlah kejadian nyata, melainkan merupakan bagian dari simulasi penanganan aksi massa yang digelar oleh jajaran Kepolisian sebagai bentuk antisipasi apabila terjadi demonstrasi mendadak yang mengarah pada tindakan kekerasan terhadap kantor DPRD Sulut.
“Ini adalah giat simulasi penanganan terhadap aksi massa demo sebagai antisipasi ketika ada aksi yang tiba-tiba masuk menyerang kantor DPRD Sulut,” jelas Kapolresta Manado, Kombes Pol Julianto Sirait, saat memimpin langsung simulasi tersebut pada Kamis, 25 Mei 2025, siang.
Menurut Julianto, Kantor DPRD Sulut dipilih sebagai lokasi latihan karena tempat tersebut sering menjadi titik konsentrasi massa dalam menyampaikan aspirasi. Ia menegaskan bahwa simulasi ini merupakan bentuk kesiapan kepolisian dalam memberikan pelayanan serta pengamanan terhadap masyarakat yang melakukan aksi unjuk rasa secara sah dan konstitusional.
Pantauan di lapangan mencatat bahwa sebanyak 490 personel diterjunkan dalam kegiatan ini. Pihak Sekretariat DPRD, yang dipimpin oleh Sekretaris DPRD Niklas W. Silangen, turut mendukung penuh kelancaran pelaksanaan simulasi.
Selain Kapolresta Manado, kegiatan ini juga dipimpin oleh Direktur Samapta Polda Sulut. Latihan pengendalian massa (Dalmas) yang digelar di halaman Kantor DPRD Provinsi Sulut ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat, khususnya di wilayah strategis seperti lembaga legislatif.
Kombes Pol Julianto Sirait menekankan pentingnya pendekatan profesional dan humanis dalam setiap langkah pengamanan. “Latihan ini bertujuan untuk memastikan kesiapan personel dalam menghadapi situasi kontinjensi di lapangan, serta menjunjung tinggi prinsip hak asasi manusia dalam setiap tindakan,” ujarnya.
Simulasi ini meliputi berbagai tahapan mulai dari preventif, persuasif, hingga tindakan represif yang tetap mengacu pada Standar Operasional Prosedur (SOP) pengendalian massa. Seluruh rangkaian latihan juga menggunakan perlengkapan dan kendaraan taktis pendukung.
Dir Samapta Polda Sulut menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan rutin untuk meningkatkan kemampuan personel. “Kami ingin memastikan bahwa anggota selalu siap siaga dan mampu bertindak cepat serta tepat dalam setiap situasi darurat,” jelasnya.
Kegiatan ini turut disaksikan oleh sejumlah pejabat instansi terkait serta warga sekitar, yang mengapresiasi langkah proaktif kepolisian dalam menjaga stabilitas keamanan di daerah. (valentino)








