Elegan Tanpa Berlebihan: Cara Sherly Tjoanda Menjahit Citra Lewat Karya Lokal

oleh -1014 Dilihat
oleh
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, busana bukan sekadar kain dan potongan—ia adalah pernyataan sikap

MANADONET.COM- Kinerja adalah tolok ukur utama seorang pemimpin. Namun di ruang publik, cara berpenampilan kerap menjadi bahasa pertama yang berbicara. Bagi Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, busana bukan sekadar kain dan potongan—ia adalah pernyataan sikap.

Sejak menjabat tahun lalu, Sherly disebut-sebut sebagai kepala daerah terkaya dengan total aset mencapai Rp 900 miliar dari bisnis keluarga. Dengan latar belakang itu, bukan hal sulit baginya untuk tampil dalam balutan label-label mewah Eropa. Namun yang terlihat justru sebaliknya.

Di sejumlah unggahan Instagram resminya, @s_tjo, ibu tiga anak itu memilih karya desainer Indonesia. Dalam perayaan Imlek, misalnya, ia tampil dalam satu set busana koleksi Lunar 2026 rancangan Wilsen Willim. Pilihan tersebut bukan hanya soal estetika, tetapi juga dukungan nyata terhadap industri kreatif dalam negeri.

Sentuhan lokal itu berlanjut pada momen Hari Ibu tahun lalu. Sebuah kebaya lilac rancangan Intan Avantie membalut penampilannya—anggun, sopan, dan bersahaja.

“Sebetulnya kebaya ini tidak dibuat khusus untuk beliau,” ungkap Intan saat berbincang dengan Wolipop.

Putri desainer senior Anne Avantie itu bercerita, saat itu Sherly membutuhkan kebaya dalam waktu singkat. Karena keterbatasan waktu dan jarak, Intan memutuskan menyempurnakan busana yang sudah setengah jadi.

“Kami kebut selesaikan dalam dua hari agar bisa beliau pakai tepat waktu,” tuturnya.

Komunikasi keduanya disebut berjalan lancar. Sherly bahkan cukup terlibat dalam proses kreatif. Ia menekankan bahwa kebaya sebagai simbol perempuan Indonesia harus tetap sopan—tanpa potongan dada rendah dan dengan lace yang rapat agar tidak transparan.

Bagi Intan, insting gaya Sherly patut diapresiasi. Di usia 43 tahun, ia dinilai piawai menyesuaikan busana dengan acara yang dihadiri. Padu padan busana dan aksesori terlihat natural, tidak berlebihan, namun tetap berkelas.

Menariknya, meski telah beberapa kali merancang kebaya untuk sang gubernur, Intan yang berbasis di Semarang itu belum pernah bertemu langsung dengan Sherly.

“Semoga suatu saat nanti saya bisa jumpa dengan beliau,” harapnya.

Di tengah sorotan terhadap kekayaan dan jabatan, Sherly Tjoanda tampaknya memilih jalan berbeda dalam membangun citra: tidak melalui gemerlap label internasional, melainkan lewat kepercayaan pada karya anak bangsa. Sebuah pesan sunyi bahwa kepemimpinan bisa tampil elegan—tanpa harus kehilangan akar. (vln)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.