MANADONET.COM – Politeknik Negeri Manado (Polimdo) sukses menggelar Seminar Nasional Produk Terapan Unggulan Vokasi Tahun 2026 pada Jumat (12/6/2026). Mengangkat tema “Sinergi Pentahelix: Penguatan Kemitraan Vokasi dan Industri Dalam Mewujudkan Ekosistem Hijau yang Berkelanjutan”, ajang tahunan ini mempertemukan kalangan akademisi dan praktisi industri untuk merumuskan masa depan vokasi yang ramah lingkungan.
Dalam sambutannya, Direktur Polimdo, Maryke Alelo, menyoroti tantangan besar dalam mewujudkan keberlanjutan (sustainability). Menurutnya, konsep ini merupakan hasil rekonsiliasi antara pilar ekonomi dan pilar pelestarian lingkungan yang selama ini sering kali berbenturan di lapangan.
“Ada dua pilar besar yang selama ini seolah bertabrakan, yakni pilar ekonomi yang menginginkan masyarakat memperoleh keuntungan dari sektor pariwisata dalam waktu singkat, dan pilar lingkungan yang menuntut agar alam tetap terjaga,” ujar Maryke.
Sebagai solusinya, Maryke memperkenalkan prinsip ekopopulisme. “Kedua kepentingan ini dipersatukan melalui prinsip ekopopulisme, yaitu tidak boleh mengorbankan masyarakat demi lingkungan, dan tidak boleh merusak lingkungan demi kepentingan ekonomi,” tegasnya.
Selain membahas isu lingkungan, seminar ini juga menjadi momentum penting bagi Polimdo dalam menggenjot budaya riset dan publikasi ilmiah. Sejalan dengan tuntutan Indikator Kinerja Utama (IKU) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Polimdo kini mewajibkan hasil penelitian dan tugas akhir mahasiswa untuk menembus jurnal ilmiah.
Untuk mendukung kebijakan baru tersebut, mahasiswa sengaja dilibatkan dalam seminar ini agar dapat menimba ilmu langsung dari para pakar. Tidak sekadar datang, Maryke menegaskan bahwa seluruh mahasiswa peserta wajib menyusun laporan atau jurnal singkat terkait materi yang mereka peroleh untuk kemudian dievaluasi oleh dosen pembimbing.
Komitmen Polimdo dalam membangun ekosistem hijau tidak hanya berhenti pada tataran teori, melainkan langsung diterapkan melalui kebijakan internal kampus yang sangat ketat.
Beberapa aturan progresif yang kini diterapkan di lingkungan Polimdo antara lain:
Pengurangan Sampah Plastik: Seluruh sivitas akademika diwajibkan membawa tumbler (botol minum ramah lingkungan).
Larangan Keras Vaping: Kampus melarang keras penggunaan rokok elektronik atau vaping, baik di dalam maupun di luar area kampus. “Polimdo tidak akan membiayai orang-orang yang sedang merencanakan bunuh diri secara perlahan-lahan. Siapa pun yang kedapatan melakukan vaping akan dikenakan sanksi,” ujar Maryke dengan tegas.
Kesehatan Mental (Anti-Bullying): Polimdo memperluas definisi ekosistem hijau ke ranah sosial dengan melarang segala bentuk perundungan (bullying) demi menjaga kesehatan mental mahasiswa dan staf.
Di akhir pemaparannya, Maryke berharap seminar nasional ini dapat membuka kran kolaborasi yang lebih luas antara Polimdo dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Kita membutuhkan koneksi dan kemitraan dengan universitas maupun industri agar Politeknik Negeri Manado dapat terus mengembangkan kompetensinya,” pungkasnya.
Seminar ini ditutup dengan sesi pemaparan materi dari sejumlah narasumber kompeten, yang diharapkan mampu menstimulus lahirnya produk-produk terapan vokasi baru yang inovatif sekaligus berkelanjutan.







