Teknologi Melaju, Kepemimpinan Tetap Jadi Kunci

oleh -577 Dilihat
oleh

KECANGGIHAN teknologi dan banjir informasi telah memberi pintu baru bagi manusia untuk bekerja lebih efektif dan efisien. Teknologi mempercepat dan mempermudah pekerjaan manusia melalui otomatisasi dan kolaborasi jarak jauh. Inovasi seperti Kecerdasan Buatan / Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) mengambil alih tugas repetitif. Kemajuan ini memberi ruang lebih bagi manusia untuk berpikir strategis dan bisa fokus menjaga kesehatan mental di lingkungan pekerjaan.

Namun begitu, perkembangan teknologi tanpa kemajuan manusia, sama saja bohong. Dalam lingkungan pekerjaan, remot besar dipegang oleh pemimpin / leader dan menjadi penentu kemajuan, juga kemunduran organisasi. Meski teknologi melaju kencang, cara seseorang memimpin tetap menjadi kunci. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas kepemimpinan berdampak langsung terhadap produktivitas, motivasi, kepuasan kerja, inovasi, serta kinerja organisasi secara keseluruhan. Menjadi seorang pemimpin bukan hanya tentang menduduki suatu jabatan, tetapi mampu mengarahkan, menginspirasi dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik sehingga dapat mendorong tim untuk mencapai tujuan bersama. Karena itu, teknologi dan segala kemudahan, ditambah kekuatan leadership, hasilnya paripurna.

Dunia pekerjaan dewasa ini perlu adaptif pada kemajuan teknologi namun tetap serius mengatur secara benar proses kaderisasi, promosi, serta terus menggiatkan pelatihan kepemimpinan. Pelatihan berkala menjadi program penting dan mendasar untuk membekali seseorang dengan kompetensi yang bisa mengambil keputusan secara tepat, membangun komunikasi yang efektif, menyelesaikan konflik, mengelola perubahan, serta meningkatkan kemampuan berpikir strategis. Integritas, empati, disiplin, tanggung jawab dan kemampuan mendengarkan merupakan nilai-nilai yang dibutuhkan.

Pemimpin yang memiliki karakter kuat akan lebih mudah memperoleh kepercayaan dari anggota tim dan mampu menciptakan budaya kerja yang positif. Sekali lagi, pemimpin bukan sekadar mengisi jabatan kosong. Tanpa penerapan konsep kepemimpinan yang benar, organisasi tidak memiliki arah dan lingkungan kerja menjadi rawan drama.

Servant Leadership

Konsep kepemimpinan yang populer antara lain servant leadership / kepemimpinan pelayan, transformational leadership dan democratic leadership. Sekilas tentang servant leadership / kepemimpinan pelayan yang dicetuskan Robert Greenleaf (1904–1990) adalah memimpin dengan cara yang benar-benar melayani orang lain. Tidak apatis, namun mendengarkan dengan empati, mengutamakan keseimbangan kerja dengan memahami pentingnya membedakan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Kepemimpinan pelayan juga berfokus pada pengembangan karyawan, nilai-nilai kepercayaan, kepedulian, akuntabilitas serta memberi pengakuan dan apresiasi.

Transformational Leardership

Sementara itu, transformational leadership / kepemimpinan transformasional merupakan gaya kepemimpinan yang menitikberatkan pada upaya menginspirasi, memotivasi dan mengembangkan potensi maksimal dari setiap anggota tim. Bukan hanya sekedar memberikan arahan atau instruksi, pemimpin yang mengadopsi gaya ini berkomitmen untuk menciptakan perubahan positif yang mendalam.

Seorang pemimpin yang berkepribadian transformasional bertujuan untuk menciptakan lingkungan dimana karyawan merasa terdorong untuk berkembang, berinovasi dan memberikan kontribusi maksimal. Mereka tidak hanya memandang karyawan sebagai pelaksana tugas, melainkan sebagai individu yang memiliki potensi dan keinginan untuk tumbuh secara personal dan profesional. Gaya kepemimpinan ini pertama kali dicetuskan James MacGregor Burns dan kemudian dikembangkan oleh peneliti Bernard M. Bass.

Democratic Leardership

Salah satu gaya kepemimpinan yang adalah kepemimpinan demokratis atau democratic leadership. Kepemimpinan demokratis berusaha untuk mengikutsertakan anggota tim atau bawahan dalam pembuatan kebijakan. Dalam jenis kepemimpinan ini, pemimpin tidak hanya memutuskan sendiri, tetapi juga mengajak partisipasi dan melibatkan anggota tim dalam proses pengambilan keputusan. Pendekatan ini memungkinkan anggota tim untuk memberikan masukan, ide, dan pandangan mereka, sehingga keputusan yang dihasilkan dapat lebih terinformasi dan diterima secara keseluruhan. Pemimpin terbuka menerima masukan dan semua berjalan secara partisipatif, terbuka dan kolaboratif. Pencetus konsep ini adalah psikolog sosial Kurt Lewin.

Toxic Leadership

Namun, tidak dapat dipungkiri, kurangnya pemahaman, pelatihan serta proses promosi tanpa asesmen dan uji kelayakan, banyak menghasilkan gagal paham sehingga mengarah pada toxic leadership yang minim kecerdasan emosional. Toxic leadership cenderung intimidatif /menciptakan budaya takut melalui intimidasi atau ancaman, manipulatif (Machiavellianisme), kerap melakukan perundungan (bullying) dan komunikasi buruk. Selain itu, toxic leadership selalu menuntut pekerjaan dilakukan dengan caranya / otoriter (micromanaging), arogan, sinis, narsis / haus validasi, antikritik, kurang empati, fovoritisme, serta sering melakukan perbuatan yang tidak etis dan kasar (abusive) terhadap anak buah.

Perlu digarisbawahi bahwa pemimpin yang toxic tidak sama dengan pemimpin yang tegas. Pemimpin toxic sering menggunakan kekuasaannya untuk memanipulasi, menyakiti, bahkan memutarbalikkan fakta demi kepentingannya sendiri dan menuntut kepatuhan anak buahnya secara mutlak tanpa memberikan ruang untuk bertanya atau menyanggah. Efeknya, lingkungan kerja menjadi tidak sehat, menghambat pertumbuhan individu maupun organisasi, karena perilaku pemimpinnya yang destruktif. Hal ini juga ditulis Marcia Lynn Whicker dalam bukunya The Toxic Leader (1996).

Anda seorang pemimpin? Konsep apa yang sedang Anda jalankan?

Oleh: Claudia Rahim, S.Pd, M.Si,
Ketua Bidang Pengembangan Digitalisasi Kehumasan, BPC Perhumas Manado

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.