Ada banyak orang yang menganggap bahwa melanggar komitmen yang dimiliki ketika sesuatu tidak berjalan dengan baik di dalam kehidupan adalah sesuatu yang dapat dikompromi.
Ada orang yang menggunakan masalah sebagai alasan melanggar komitmennya terhadap Tuhan.
“Yah salah-salah katu, suka mo beking tu apa kita ada janji dulu for mo maso-maso ibadah mar napa kwa sementara ada pergumulan jadi biarjo dulu for skarang kita nda mo pigi ibadah karna tu hati sementara nda tenang”.
Hal yang miris adalah ketika kita mau berkomitmen kepada Tuhan ketika merasa bersukacita tetapi dengan mudah mengabaikan komitmen ketika pergumulan melanda kehidupan,
padahal tantangan, rintangan dan pergumulan yang hadir dalam hidup ini merupakan kesempatan terpenting bagi kita untuk membuktikan seberapa besar komitmen kita kepada Tuhan.
Rut tidak meninggalkan komitmennya ketika kepahitan melanda hidupnya, malahan ketika pergumulan itu datang maka pada saat itulah dia mau berkomitmen kepada Tuhan.
Kedua, jika kita bercerita tentang Rut, narasi yang biasanya terlintas di benak kita adalah kisah tentangnya dan juga Boas,
sebagaimana yang dapat kita baca dalam Rut pasal 2-4. Tetapi ternyata kekaguman Boas kepada Rut muncul ketika dia mendengar tentang komitmen dan ketaatan Rut,
sehingga Boas menghiburkan hati Rut dan mengucapkan perkataan berkat kepadanya (Rut 2:11-12).
Komitmen Rut yang diucapkan kepada Naomi pada ayat ke-16 sampai 17 bacaan ini ternyata tidak hanyalah sekedar kata-kata yang disampaikan untuk menghibur Naomi ataupun perkataan yang hanya lalu begitu saja.







