MANADONET.COM- Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Romo Petrus Noegroho Agoeng, menegaskan bahwa secanggih apa pun perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), teknologi tersebut tidak akan pernah mampu menggantikan nilai hakiki dari perjumpaan antar-manusia.
Pernyataan itu disampaikan Romo Agoeng saat memberikan sambutan dalam Opening Ceremony Family Gathering Komsos Keuskupan Manado ke-6 di Paroki Santo Petrus Rasul Warembungan, Sabtu (16/5/2026).
“Secanggih apa pun AI berkembang, teknologi tersebut tidak akan pernah bisa menggantikan esensi dari perjumpaan antar-pribadi,” tegasnya di hadapan ratusan pegiat komunikasi sosial dari berbagai paroki di Keuskupan Manado.
Mengutip pesan Paus Fransiskus, Romo Agoeng menjelaskan bahwa pertemuan tatap muka menghadirkan keaslian yang tidak mungkin ditiru mesin. Menurutnya, kehadiran wajah, suara, dan interaksi langsung antar-manusia menjadi ruang suci yang menghadirkan kasih dan kehangatan nyata.
“Melalui kehadiran wajah dan suara yang nyata dalam pertemuan ini, kita sedang menghadirkan kehadiran Allah sendiri di tengah-tengah kita,” ujarnya.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap keputusan Komsos Keuskupan Manado yang tetap mempertahankan tradisi pertemuan fisik di tengah derasnya arus digitalisasi komunikasi.
Dalam sambutannya, Romo Agoeng turut mengenang awal lahirnya kegiatan Family Gathering Komsos yang digagas di tengah keterbatasan pandemi COVID-19. Menurutnya, langkah tersebut menjadi bukti bahwa insan komunikasi gereja tidak menyerah dalam situasi sulit.
“Sangat luar biasa bagaimana di tengah situasi sulit pandemi, Komsos Keuskupan Manado justru melahirkan gagasan besar untuk tetap bergerak dan tidak berdiam diri. Proficiat untuk Komsos Keuskupan Manado,” katanya.
Suasana pembukaan berlangsung hangat dan penuh nuansa kekeluargaan. Tawa peserta pecah ketika Romo Agoeng menyinggung kekompakan Ketua Komisi Komsos Keuskupan Manado, Pastor Yohanes I Made Pantyada, bersama Ketua Panitia, Pastor Windy Tangkuman, yang disebutnya sebagai “duet maut” di balik suksesnya agenda tahunan tersebut.
Kegiatan ini turut dihadiri Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu, para imam, jajaran pemerintah setempat, hingga aparat kepolisian.
Sementara itu, Ketua Panitia, Jimmy Senduk, melaporkan bahwa hingga hari pembukaan tercatat sebanyak 181 peserta dari 37 paroki se-Keuskupan Manado telah mengikuti kegiatan tersebut dan jumlahnya diperkirakan masih akan bertambah.
“Peserta terjauh datang dari kepulauan, yakni dari Sangihe, Tahuna. Ini menunjukkan kerinduan yang besar untuk berkumpul dan berbagi pengalaman,” ungkap Jimmy.
Menariknya, seluruh peserta tidak ditempatkan di penginapan komersial, melainkan tinggal bersama keluarga umat di wilayah Paroki Warembungan selama dua hari kegiatan berlangsung. Konsep tersebut dinilai menjadi cara efektif mempererat persaudaraan antarumat sekaligus melibatkan masyarakat paroki secara langsung dalam pelayanan Komsos.
Melalui Family Gathering ini, para pegiat media gereja diharapkan semakin solid dalam menjalankan misi pewartaan dan komunikasi iman di tengah tantangan zaman modern. (***)
Valentino Warouw









