MANADONET.COM- Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Amir Liputo, kembali turun langsung menyerap aspirasi masyarakat dalam agenda reses yang digelar di dua titik di Kota Manado, Sabtu hingga Senin, 1–3 Agustus 2026.
Berbagai persoalan krusial mencuat dalam pertemuan tersebut. Mulai dari kebutuhan pupuk dan bibit pertanian, dugaan persoalan penguasaan lahan, kondisi sekolah yang membutuhkan renovasi, kelistrikan, pembangunan rumah ibadah, hingga infrastruktur dasar.
Reses pertama digelar di Kelurahan Pandu, Lingkungan III, bertempat di kediaman Keluarga Amang Selesenaung.
Dalam dialog bersama masyarakat, warga menyampaikan sejumlah kebutuhan yang dinilai mendesak, khususnya untuk mendukung sektor pertanian lokal. Bantuan pupuk dan bibit menjadi salah satu aspirasi utama yang disampaikan warga.
Namun, persoalan yang mengemuka tidak hanya berkaitan dengan sarana produksi pertanian. Masyarakat juga menyuarakan keluhan terkait dugaan penguasaan lahan pertanian milik negara oleh oknum tertentu.
Warga bahkan menyebut adanya dugaan penerbitan sertifikat yang diduga bermasalah atas lahan yang selama ini menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat.
Selain itu, warga Kelurahan Pandu turut mengusulkan perhatian pemerintah terhadap pembangunan masjid, bantuan Kelompok Usaha Bersama (KUBE), pemerataan jaringan listrik, serta peningkatan kualitas jalan lingkungan yang sebagian masih berupa tanah.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Amir Liputo menegaskan bahwa seluruh masukan masyarakat akan dicatat dan diperjuangkan sesuai dengan kewenangan DPRD Provinsi Sulawesi Utara.
“Tugas kami sebagai wakil rakyat adalah mendengar langsung apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Semua aspirasi yang disampaikan hari ini saya catat dan akan saya perjuangkan sesuai kewenangan DPRD Provinsi Sulawesi Utara. Yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi akan kami dorong, sedangkan yang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota maupun pusat akan kami koordinasikan,” ujar Amir Liputo.
Reses kemudian berlanjut di titik kedua, yakni Kelurahan Banjer-Taas, Lingkungan IV, di kediaman Keluarga Sitty Fatimah Tagolan.
Di lokasi ini, persoalan pendidikan dan infrastruktur lingkungan menjadi perhatian utama masyarakat.
Warga melaporkan kondisi SD Alkhairaat Tanawangko di kawasan pesisir yang saat ini menampung 43 siswa. Bangunan sekolah tersebut disebut sudah lapuk dan membutuhkan renovasi segera.
Persoalan pendidikan lainnya juga disampaikan terkait SD Alkhairaat Airmadidi yang mengalami kekurangan ruang belajar. Kondisi tersebut membuat sebagian siswa harus mengikuti proses belajar mengajar di luar ruangan kelas.
Selain pendidikan, sejumlah aspirasi lain juga disampaikan masyarakat, di antaranya permohonan bantuan kain kafan bagi warga yang mengalami kedukaan, penanganan masalah penurunan tegangan listrik yang disebut kerap mengganggu bahkan berpotensi merusak peralatan rumah tangga, serta bantuan pembangunan Masjid Ar Rizki dan Masjid Al Ikhlas.
Warga juga meminta adanya normalisasi dan pembangunan saluran drainase di Lingkungan IV untuk mengantisipasi banjir saat musim hujan.
Menanggapi seluruh masukan tersebut, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini memastikan aspirasi masyarakat akan menjadi bahan pembahasan dan koordinasi bersama pemerintah daerah serta instansi teknis terkait.
“Reses bukan sekadar agenda rutin, tetapi menjadi momentum bagi kami untuk memastikan suara masyarakat benar-benar sampai kepada pemerintah. Aspirasi ini akan kami kawal agar mendapat tindak lanjut yang nyata melalui fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan,” tegas Amir.
Berbagai persoalan yang disampaikan warga dalam dua titik reses tersebut selanjutnya akan dirangkum dalam laporan hasil reses untuk menjadi bahan perjuangan di tingkat DPRD Sulawesi Utara.
Amir menegaskan, dirinya akan terus mengawal aspirasi masyarakat, baik yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara maupun yang membutuhkan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah pusat. (***)
Valentino








