MANADONET.COM- Garda Marhaenis Muda Sulawesi Utara menggelar diskusi publik bertajuk refleksi nilai-nilai Pancasila dalam konteks penegakan hukum dan pencegahan korupsi untuk mewujudkan Asta Cita Presiden di Sulawesi Utara, Sabtu (10/10/2026), di Grand Puri Manado.
Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila ini menghadirkan Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Eri Yudianto, sebagai narasumber.
Dalam pemaparannya, Eri menekankan bahwa Pancasila merupakan fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara sekaligus landasan dalam pembentukan hukum di Indonesia. Lima sila Pancasila, mulai dari Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, hingga keadilan sosial, menjadi prinsip yang harus tercermin dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara dan penegakan hukum.
Menurutnya, nilai-nilai yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa tidak boleh berhenti sebagai dasar konstitusional semata, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk dalam upaya penegakan hukum dan pencegahan korupsi.
Eri juga menyoroti perubahan besar dalam kehidupan masyarakat di tengah perkembangan teknologi digital. Saat ini, informasi dapat diperoleh dan disebarluaskan dengan sangat cepat, bahkan menjangkau masyarakat di berbagai belahan dunia.
Ia mencontohkan penggunaan teknologi seperti Google Maps yang memudahkan seseorang menemukan lokasi tanpa harus melalui proses pencarian yang rumit seperti pada masa lalu.
Perubahan tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa keterbukaan informasi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. Karena itu, masyarakat perlu memiliki pemahaman kebangsaan yang kuat agar mampu menyikapi perkembangan teknologi secara bijaksana.
“Di era digitalisasi ini, apa yang kita sampaikan bisa diketahui oleh siapa pun di ujung dunia, bukan hanya di Indonesia,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam diskusi tersebut.
Selain perkembangan teknologi, Eri turut menyoroti pentingnya menjaga nasionalisme, khususnya di wilayah-wilayah perbatasan yang memiliki kerentanan terhadap gangguan stabilitas keamanan. Menurutnya, persoalan keamanan tidak dapat dilepaskan dari ketahanan ideologi dan pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai kebangsaan.

Penguatan Pancasila dan semangat nasionalisme menjadi bagian penting dalam menjaga persatuan bangsa di tengah dinamika sosial, politik, dan perkembangan teknologi yang terus berubah.
Perkuat Persaudaraan Lintas Generasi Marhaenis
Diskusi tersebut berlangsung dalam suasana akrab dan penuh persaudaraan. Pertemuan ini sekaligus menjadi ruang silaturahmi bagi para aktivis yang memiliki latar belakang perjuangan di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), dari berbagai generasi dan cabang.
Ikatan persaudaraan sebagai sesama Marhaenis menjadi salah satu semangat yang mewarnai kegiatan tersebut. Selain menjadi forum pertukaran gagasan mengenai Pancasila, penegakan hukum, dan pencegahan korupsi, kegiatan ini juga mempertemukan kembali para aktivis yang pernah berproses dalam gerakan mahasiswa pada masa masing-masing.
Sejumlah tokoh dan aktivis yang hadir di antaranya Bung Ferry Sangian, Bung Salman Saelangi, Bung Otnie Tamod, Bung Brilliant Maengko, Bung Muhdi Pasma, Mbak Eva Keintjem, Bung Herdy Dajoh, Bung Andre Mondong, Bung Ari Dupa, Bung Artur Karinda, dan Bung Eldric Madalis, bersama aktivis lainnya.
Hadir pula kader dan aktivis GMNI dari Cabang Bitung, Manado, dan Minahasa.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Bung Golfinger Kalensang, selaku Ketua Garda Marhaenis Muda Sulawesi Utara, Bung Elco Sairatu, Bung Kevrent Sidabutar, dan Bung Santo Amisan.
Melalui diskusi ini, Garda Marhaenis Muda Sulawesi Utara berupaya membuka ruang dialog kebangsaan yang mempertemukan pengalaman lintas generasi dengan tantangan Indonesia saat ini, terutama dalam memperkuat nilai-nilai Pancasila, membangun kesadaran hukum, serta mendorong pencegahan korupsi.
Refleksi Pancasila pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana dasar negara dirumuskan oleh para pendiri bangsa, tetapi juga bagaimana nilai-nilai tersebut terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui integritas, tanggung jawab, persatuan, dan komitmen terhadap keadilan sosial. (***)
Valentino







