Modernisasi Tanpa Kehilangan Budaya, Mareyke Alelo Ingin Mahasiswa Polimdo Tangguh dan Beretika

oleh -8 Dilihat

MANADONET.COM – Politeknik Negeri Manado (Polimdo) terus memperkuat kualitas pendidikan melalui kolaborasi internasional yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kompetensi akademis, tetapi juga pembentukan karakter, etika, dan kecerdasan emosional generasi muda.

Komitmen tersebut tercermin dalam kegiatan pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning/PBL) yang melibatkan mahasiswa lintas program studi, sekaligus dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) bersama Sunmarina Operations Co., Ltd Jepang, Selasa (20/10/2026).

Direktur Polimdo, Dra. Maryke Alelo, MBA, dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa kolaborasi budaya Jepang dan Indonesia merupakan contoh positif bagaimana kemajuan suatu negara dapat berjalan beriringan dengan pelestarian tradisi, budaya, dan nilai-nilai kesopanan.

Menurut Mareyke, Jepang merupakan salah satu negara maju yang tetap mempertahankan karakter masyarakatnya, terutama dalam hal kedisiplinan, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap sesama.

Maryke mencontohkan kebiasaan pengendara di Jepang yang memberikan kesempatan dan mengutamakan keselamatan anak-anak ketika menyeberang jalan. Hal sederhana tersebut mencerminkan kuatnya nilai kemanusiaan dan budaya tertib dalam kehidupan masyarakat.

Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, penting menjadi pembelajaran bagi generasi muda Indonesia, khususnya Generasi Z, agar perkembangan teknologi dan modernisasi tidak mengikis kesantunan dalam berkomunikasi maupun berinteraksi.

“Ini adalah contoh yang sangat baik tentang bagaimana Jepang dan Indonesia dapat berbagi pengalaman serta saling memahami budaya yang berbeda,” ungkap Mareyke.

Maryke berharap prinsip tersebut dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan identitas budaya dan karakter bangsa.

Selain penguatan nilai budaya, Mareyke juga menekankan pentingnya pembelajaran berbasis proyek sebagai metode pendidikan yang memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa.

Melalui PBL, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori di dalam kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga penyelesaian berbagai persoalan di lapangan.

Menurutnya, situasi tidak terduga seperti keterlambatan acara, tamu yang belum hadir, persoalan konsumsi, hingga kendala teknis merupakan bagian dari proses pembelajaran yang justru membentuk kemampuan mahasiswa dalam menghadapi tantangan.

Mahasiswa dituntut mampu berpikir cepat, mengambil keputusan, menyiapkan rencana alternatif (backup plan), serta melakukan langkah antisipatif ketika menghadapi persoalan.

“Mahasiswa yang terlibat dalam pembelajaran berbasis proyek akan menjadi lebih kuat dan antisipatif. Mereka belajar mempersiapkan solusi ketika menghadapi situasi yang tidak terduga,” jelasnya.

Maryke menambahkan, PBL juga memiliki peran penting dalam mengembangkan kecerdasan emosional (emotional intelligence) dan ketangguhan diri (resilience).

Ketika bekerja dalam tim dengan latar belakang serta tingkat kedisiplinan yang berbeda, mahasiswa dilatih mengendalikan emosi, membangun komunikasi efektif, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.

Kegiatan tersebut semakin menarik karena melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, di antaranya Teknik Elektro, Teknik Mesin, Akuntansi, dan Administrasi Bisnis.

Kolaborasi lintas program studi ini membuka ruang bagi mahasiswa untuk saling bertukar pengetahuan, memperluas perspektif, serta membangun kemampuan bekerja dalam tim dengan latar belakang keilmuan yang beragam.

Sinergi tersebut sekaligus menjadi gambaran nyata dunia kerja profesional yang membutuhkan kemampuan kolaborasi, komunikasi, fleksibilitas, dan pemecahan masalah.

Melalui kerja sama dengan Sunmarina Operations Co., Ltd Jepang serta penerapan metode pembelajaran berbasis proyek, Polimdo terus memperluas pendekatan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan global.

Bagi Polimdo, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kemampuan akademis dan keterampilan teknis lulusan, tetapi juga dari karakter, kedisiplinan, etika, serta kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan.

Dengan demikian, mahasiswa diharapkan tidak sekadar menjadi tenaga profesional yang kompeten, tetapi juga generasi muda yang memiliki integritas, kepribadian tangguh, menghargai keberagaman budaya dan siap mengambil bagian dalam persaingan global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.