MANADONET.COM – Inovasi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) terus dikembangkan oleh Politeknik Negeri Manado (Polimdo) melalui kolaborasi riset internasional bersama Griffith University, Australia, dan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado.
Melalui teknologi mesin pirolisis, tim peneliti mengembangkan metode pengolahan sampah plastik menjadi minyak pirolisis yang berpotensi diolah menjadi bahan bakar alternatif, seperti bensin, solar, dan minyak tanah.
Penelitian ini merupakan bagian dari Program KONEKSI, sebuah kolaborasi riset Indonesia–Australia yang berfokus pada pengembangan solusi inovatif untuk menjawab tantangan lingkungan dan mendukung transisi energi berkelanjutan.
Ketua Tim Penelitian KONEKSI Polimdo, Dr. Winda Sanni Slat, SST., M.Eng., mengungkapkan bahwa penelitian tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap meningkatnya persoalan sampah plastik yang hingga kini masih menjadi tantangan serius, baik di tingkat lokal maupun global.
Khusus di Kota Manado, masih terdapat sampah plastik yang belum tertangani secara optimal. Padahal, melalui penerapan teknologi yang tepat, sejumlah jenis plastik dapat diolah kembali menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis.
“Persoalan sampah plastik bukan hanya menjadi masalah di daerah atau lingkungan sekitar kita, tetapi juga sudah menjadi masalah global,” ungkap Winda saat diwawancarai CYBERSULUT, Kamis (22/10/2026).
Dalam pengembangan teknologi tersebut, tim peneliti tidak hanya berfokus pada pengolahan plastik, tetapi juga mengeksplorasi pemanfaatan limbah lain sebagai katalis dalam proses pirolisis.
Material yang diteliti meliputi cangkang kerang laut serta limbah konstruksi atau construction and demolition waste (C&D), termasuk material berbasis bata merah.
Menurut Winda, pemanfaatan material tersebut menjadi bagian dari pendekatan penelitian untuk mengintegrasikan pengolahan berbagai jenis limbah menjadi produk yang lebih bermanfaat.
Secara teknis, pirolisis merupakan proses penguraian material pada temperatur tinggi dengan kondisi tanpa atau sangat terbatas oksigen. Dalam pengolahan plastik, proses ini memecah rantai polimer menjadi senyawa hidrokarbon dengan berat molekul lebih rendah yang kemudian dapat menghasilkan produk cair, gas, dan residu padat.
Penggunaan katalis dalam proses tersebut berperan memengaruhi jalur reaksi, mempercepat proses perengkahan (cracking), serta mengarahkan komposisi produk hidrokarbon yang dihasilkan.
“Bergantung pada karakteristik material katalis dan kondisi operasi, penggunaan katalis dapat membantu mengarahkan pembentukan senyawa hidrokarbon dengan rentang ukuran molekul yang diinginkan, mengurangi kebutuhan energi pada reaksi tertentu, atau memperbaiki karakteristik produk,” jelasnya.
Dalam penelitian ini, tim menggunakan beberapa jenis plastik, terutama polypropylene (PP) dan high-density polyethylene (HDPE). Kedua material tersebut banyak ditemukan dalam berbagai produk kebutuhan sehari-hari dan memiliki karakteristik yang memungkinkan untuk diproses melalui teknologi pirolisis.
Melalui mesin khusus, sampah plastik dipanaskan hingga menghasilkan uap yang selanjutnya didinginkan melalui proses kondensasi untuk memperoleh minyak pirolisis.
Produk cair tersebut berpotensi dikembangkan menjadi bahan bakar dengan karakteristik seperti bensin, solar, maupun minyak tanah setelah melalui proses pengujian dan penyesuaian kualitas sesuai peruntukannya.
Selain menghasilkan produk cair, proses pirolisis juga menghasilkan residu padat atau char yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan briket maupun material pendukung pembuatan aspal, dengan tetap memperhatikan karakteristik dan aspek keamanannya.
Dari sisi pengembangan teknologi, tim peneliti Polimdo telah mengembangkan mesin pirolisis dengan dua kapasitas pengolahan berbeda.
Mesin pertama memiliki kapasitas sekitar 6 kilogram sampah plastik, sedangkan mesin kedua mampu menampung hingga 50 kilogram dalam satu kali proses pengolahan.
Winda menjelaskan, pengembangan mesin dengan kapasitas berbeda tersebut membuka peluang penerapan teknologi, mulai dari kebutuhan penelitian hingga pengolahan dalam skala yang lebih besar.
“Perbedaan kapasitas ini membuka peluang pengembangan teknologi, mulai dari skala penelitian hingga penerapan yang lebih besar. Namun, kapasitas penampungan mesin tidak serta-merta menunjukkan jumlah bahan bakar yang dihasilkan karena hasil akhirnya dipengaruhi jenis plastik, kondisi operasi serta efisiensi proses,” paparnya.
Winda memperkirakan, hasil keseluruhan produk dari proses pengolahan dapat mencapai sekitar 80–90 persen dari berat bahan baku.
Dengan demikian, dari 50 kilogram sampah plastik, diperkirakan dapat diperoleh sekitar 40–45 kilogram produk hasil proses, termasuk residu.
Namun, angka tersebut merupakan estimasi hasil keseluruhan proses dan bukan jumlah BBM cair yang dihasilkan secara khusus. Untuk mengetahui volume bensin, solar, maupun minyak tanah yang diperoleh, diperlukan pengukuran terpisah terhadap setiap fraksi produk, massa jenis, serta jumlah residu dan gas yang terbentuk.
Menariknya, pengembangan teknologi pirolisis ini telah memasuki tahap pengujian produk. Menurut Winda, BBM hasil pengolahan telah menjalani pengujian laboratorium di Sucofindo serta uji coba lapangan menggunakan sejumlah mesin dan peralatan.
“Bensin hasil pengolahan dilaporkan telah dicoba pada sepeda motor serta generator listrik atau genset. Minyak tanah telah digunakan untuk lampu penerangan, sedangkan solar telah diuji coba pada perahu-perahu nelayan,” ungkapnya.
Meski demikian, Winda menegaskan bahwa keberhasilan uji coba awal belum otomatis membuktikan produk tersebut telah memenuhi seluruh standar bahan bakar komersial.
Masih diperlukan pengujian lanjutan terhadap sejumlah parameter penting, seperti nilai kalor, viskositas, titik nyala, kandungan sulfur, stabilitas, serta karakteristik lainnya sesuai standar bahan bakar yang dituju.
Pengujian tersebut diperlukan untuk memastikan keamanan penggunaan, menjaga performa mesin, serta meminimalkan risiko kerusakan dan emisi yang tidak diinginkan.
Winda juga menekankan bahwa teknologi pirolisis bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi persoalan sampah plastik. Plastik yang masih dapat didaur ulang secara mekanis tetap perlu diprioritaskan apabila memberikan manfaat lebih baik dari sisi penggunaan sumber daya dan dampak lingkungan.
Karena itu, pengembangan teknologi ini perlu memperhitungkan kebutuhan energi, emisi, biaya operasional, kualitas produk, serta manfaat lingkungan secara menyeluruh.
Winda berharap hasil penelitian melalui Program KONEKSI dapat memberikan kontribusi nyata terhadap upaya pemerintah dalam mengurangi persoalan sampah plastik, khususnya di Kota Manado dan Sulawesi Utara.
Menurutnya, sampah yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai guna masih memiliki peluang untuk diolah menjadi produk bermanfaat apabila didukung penelitian, teknologi, dan pengelolaan yang tepat.
“Kami ingin membantu mengolah sampah plastik yang ada agar dapat didaur ulang menjadi produk-produk yang bernilai dan bermanfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Winda menambahkan, keberhasilan pengembangan teknologi pirolisis ke depan tidak hanya diukur dari kemampuannya menghasilkan BBM, tetapi juga harus mempertimbangkan konsistensi kualitas produk, efisiensi pengolahan, keamanan operasional, kelayakan ekonomi, dan manfaat lingkungan yang dapat dibuktikan.
Program penelitian KONEKSI ini dipimpin oleh Dr. Winda Sanni Slat, SST., M.Eng., sebagai penanggung jawab program sekaligus ketua tim peneliti dari Politeknik Negeri Manado.
Penelitian ini turut melibatkan Dr. Charles S.C. Punuhsingon, ST., M.Eng.Sc., dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat).
Sementara anggota tim peneliti Polimdo terdiri dari Dr. Steven Johny Runtuwene, M.Eng.; Prof. Dr. Hedy Desiree Rumambi, SE., MAk.; Yolanda Lagarens, SSi., MHum.; Estrela Bella Muaja, ST., MT.; Oldi Malfri Lambonan, S.Pd., M.Pd.; serta Gratia Venindi Runtuwene.
Di tingkat internasional, penelitian ini mendapat dukungan dari Prof. Prasad Kaparaju dari Griffith University, Australia, khususnya dalam pengembangan dan pengujian pendekatan pemanfaatan material limbah sebagai katalis dalam proses pirolisis.
Kolaborasi lintas negara dan perguruan tinggi ini menjadi salah satu upaya memperkuat inovasi teknologi berbasis penelitian sekaligus membuka peluang pengembangan sistem pengelolaan sampah yang lebih produktif, bernilai ekonomi, dan berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.








