Juri China Terpukau Inovasi Polimdo, Teknologi Autonomous Berbasis Satelit dan Drone Dilirik Industri

oleh -24 Dilihat

MANADONET.COM – Prestasi tim peneliti Politeknik Negeri Manado (Polimdo) dalam ajang 15th China Innovation and Entrepreneurship Competition 2026 menjadi bukti bahwa inovasi teknologi perguruan tinggi daerah mampu bersaing di tingkat internasional.

Di balik pencapaian tersebut, tim Polimdo harus melewati perjuangan panjang, mulai dari perjalanan melelahkan menuju Suzhou, kendala bahasa, keterbatasan fasilitas presentasi, hingga persaingan dengan sekitar 1.600 proyek inovasi dari berbagai negara.

Tim yang dipimpin Ir. Rudolf Estephanus Golioth Mait, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., bersama Farly Kalumata, S.ST., M.T., dan Steven Richard Kamurahan, S.T., M.Ars., berhasil melewati berbagai tahapan seleksi hingga masuk dalam delapan tim yang berhak mengikuti presentasi final. Sebelum berangkat ke Tiongkok, tim Polimdo berada pada peringkat ke-12 dunia.

Anggota tim, Farly Kalumata mengungkapkan bahwa perjalanan menuju lokasi kompetisi menjadi tantangan tersendiri. Setelah tiba di Guangzhou sekitar pukul 19.00, mereka melanjutkan perjalanan menuju Suzhou hingga baru tiba di hotel sekitar pukul 02.30 dini hari.

Kondisi fisik yang masih kelelahan semakin menantang ketika jadwal presentasi ditetapkan pukul 15.30 pada hari yang sama.

Tantangan lainnya adalah perbedaan bahasa. Presentasi menggunakan bahasa Inggris, sementara para juri menggunakan bahasa Mandarin. Meski panitia menyediakan penerjemah, interpreter baru tiba sekitar lima menit sebelum presentasi dimulai.

Keterbatasan juga terjadi karena peserta tidak diperbolehkan membawa perangkat elektronik ke ruang presentasi. Farly dan Steven akhirnya mengandalkan kemampuan komunikasi serta bantuan interpreter untuk menjawab pertanyaan para juri.

Meski demikian, keduanya berhasil menyelesaikan presentasi sesuai waktu yang ditentukan.

Menariknya, setelah presentasi, dua orang juri bahkan mendatangi tim Polimdo untuk mengajukan pertanyaan tambahan. Pembahasan tidak hanya menyangkut aspek teknis, tetapi juga status paten, perlindungan kekayaan intelektual, keamanan operasional, serta peluang pengembangan melalui penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D).

Farly menjelaskan bahwa inovasi tersebut belum dipatenkan. Namun, perlindungan kekayaan intelektual menjadi salah satu rencana tindak lanjut setelah kembali ke Indonesia.

Juri juga menyoroti aspek keamanan penggunaan teknologi drone, termasuk potensi penyalahgunaan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Menanggapi hal tersebut, Farly menjelaskan bahwa pengoperasian drone harus mengikuti regulasi, termasuk persyaratan sertifikasi pilot serta perizinan pengambilan data dari pihak berwenang seperti AirNav Indonesia.

Ketertarikan juga datang dari pihak industri Tiongkok yang melihat peluang penyempurnaan dan pengembangan teknologi tersebut, termasuk kemungkinan komersialisasi serta kerja sama industri.

Inovasi tim Polimdo sendiri mengintegrasikan sistem autonomous dengan dukungan teknologi satelit dan drone. Pengembangan ini dinilai memiliki potensi di tengah pesatnya kemajuan teknologi alat berat otonom di Tiongkok.

Menurut Farly, ketertarikan tersebut menjadi peluang penting bagi pengembangan riset Polimdo. Namun, keputusan terkait kerja sama industri tetap harus dikoordinasikan dengan pimpinan institusi.

Momen pengumuman hasil kompetisi menjadi pengalaman emosional bagi seluruh anggota tim. Farly mengaku awalnya hanya berharap dapat masuk lima atau enam besar. Informasi hasil kompetisi diterima melalui aplikasi WeChat dan harus diterjemahkan dari bahasa Mandarin untuk memastikan hasilnya.

“Ekspresi pertama kami adalah menangis. Air mata langsung jatuh karena kami menyadari perjuangan yang telah dilalui. Dalam waktu sekitar satu setengah bulan, Tuhan memberikan kesempatan dan hasil yang luar biasa bagi tim kami,” ungkap Farly.

Pengalaman selama berada di Tiongkok juga membuka wawasan tim mengenai pesatnya perkembangan teknologi industri global. Penerapan Artificial Intelligence (AI), deep learning, dan machine learning telah terintegrasi dalam berbagai sistem industri, termasuk teknologi mesin dan alat berat.

Bagi tim Polimdo, pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa persaingan internasional membutuhkan inovasi berkelanjutan, penguasaan teknologi mutakhir, serta kolaborasi erat antara perguruan tinggi dan dunia industri.

Prestasi ini diharapkan tidak berhenti sebagai pencapaian dalam kompetisi, tetapi menjadi pintu masuk bagi pengembangan riset, perlindungan kekayaan intelektual, serta peluang kerja sama internasional.

Inovasi yang lahir dari perguruan tinggi di Sulawesi Utara tersebut diharapkan dapat terus disempurnakan menjadi teknologi bernilai guna, memiliki peluang komersial, dan mampu bersaing di pasar global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.