MANADONET.COM- Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dan kerasnya realitas penegakan hukum, dua nama mendadak menggema di Sulawesi Utara.
Mereka bukan pejabat tinggi, bukan pula tokoh politik. Mereka hanya dua anggota polisi biasa yakni Vicky Mantiri dan Vicky Katiandagho yang memilih jalan sunyi, melepaskan seragam demi sesuatu yang lebih besar dari jabatan.
Keputusan itu bukan tanpa luka. Di balik pengunduran diri mereka, tersimpan cerita yang pelan-pelan mengiris hati.
Kisah Vicky Mantiri menjadi perbincangan. Ia bukan hanya seorang anggota polisi. Selama tujuh tahun terakhir, diam-diam ia merawat seorang pria lanjut usia yang hidup dalam keterbatasan tanpa sorotan, tanpa bantuan yang memadai.
“Saya hidup ingin memanusiakan manusia,” ucapnya lirih dalam sebuah video yang viral.
Kalimat itu sederhana, tetapi mengguncang. Ia bercerita telah mencoba mengetuk pintu pemerintah, berharap ada solusi bagi sang lansia.
Namun yang ia temui justru alasan demi alasan. Hingga akhirnya, ia memilih untuk tidak menunggu lagi.
Selama tujuh tahun, ia hadir—bukan sebagai aparat, tetapi sebagai manusia.
Dan ketika panggilan tugas tak lagi sejalan dengan nurani, ia memilih mundur dari anggota Polisi Polda Sulut.
Berbeda kisah, namun sama getirnya, dialami Vicky Katiandagho. Ia mundur bukan karena lelah, melainkan karena mempertahankan sesuatu yang ia yakini keadilan.
Sebelum mundur, ia menangani kasus dugaan korupsi proyek pengadaan tas ramah lingkungan di Minahasa. Prosesnya tidak main-main. Puluhan saksi diperiksa, bukti mulai dirangkai, dan harapan akan transparansi perlahan terbentuk.
Dalam waktu singkat, sekitar 40 saksi telah ia mintai keterangan. Sebuah kerja yang menunjukkan keseriusan.
Namun di tengah jalan, ia dipindahkan. “Benar ada kaitannya dengan kasus yang saya tangani sehingga dimutasi,” ujarnya, dikutip dari tribunmanado.
Lebih jauh, ia mengaku ada intervensi dari luar. Sebuah pengakuan yang tak hanya mengejutkan, tetapi juga menyisakan tanda tanya besar, sejauh mana independensi penegakan hukum bisa bertahan?
Ketika mutasi itu datang, kasus yang ia rintis terpaksa dilepas. Dan bersamaan dengan itu, ia juga melepaskan seragam yang selama ini melekat di dirinya.
Kisah dua Vicky ini bukan sekadar viral. Ini adalah cermin yang memantulkan wajah sistem. Di satu sisi, ada aparat yang memilih tetap tinggal dan mengikuti arus. Di sisi lain, ada mereka yang memilih keluar demi mempertahankan nilai.
Publik kini menanti sikap dari Polda Sulawesi Utara dan perhatian dari Kapolda Sulut Irjen Pol Roycke Harry Langie. Apakah kisah ini akan menjadi bahan evaluasi? Ataukah hanya akan tenggelam seperti banyak cerita lain sebelumnya?
Di ujung cerita ini, tak ada tepuk tangan. Hanya ada dua manusia yang memilih jalan berat—jalan yang mungkin sepi, tetapi penuh makna.
Vicky Mantiri memilih tinggal bersama kemanusiaan. Vicky Katiandagho memilih berdiri bersama keadilan.
Dan kita, sebagai pembaca, hanya bisa bertanya dalam diam, jika untuk menjadi manusia yang utuh harus melepaskan seragam, lalu apa yang sebenarnya sedang kita pertahankan?. (***)
Valentino Warouw








