Dokter Pemilik Mobil Denza Seharga 900 juta yang Viral Ancam Tabrak Securiti Mega Mas Tidak Ditahan Polresta Manado, Kasat Punya Alasan

oleh -267 Dilihat
oleh
Kasat Reskrim Polresta Manado Kompol Elwin Kristanto

MANADONET.COM- Dokter WW alias William yang memiliki mobil Denza seharga Rp900 jutaan yang telah menyerahkan diri ke pihak kepolisian tidak dilakukan penahanan oleh Polresta Manado hingga saat ini, Senin, 12 Oktober 2026.

Kapolresta Manado Kombes Pol Irham Halid melalui Kasat Reskrim Polresta Manado Kompol Elwin Kristanto ketika dikonfirmasi memilik alasan simpel sehingga dokter WW aias Willian yang viral ancam tabrak securiti mega mas Manado dan mengaku adik Kapolda tidak dilakukan penahanan.

“Tidak ditahan, prosesnya masih lidik dan permintaan keterangan saksi-saksi,” tegas Kasat Reskrim Polresta Manado, Kompol Elwin Kristanto, Senin, 12 Oktober 2026.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang diperoleh, dokter berinisial WW alias William setelah viral telah menyerahkan diri

“Setelah kami mengidentifikasi laki-laki tersebut, kami melakukan pendekatan. Yang bersangkutan kemudian datang kepada kami untuk mengklarifikasi kejadian tadi subuh,” Kanit II URC Ditreskrimum Polda Sulut, Ipda Andros Hinur.

Diketahui, dalam pemeriksaan awal, William mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada pihak kepolisian. Namun, polisi tetap melanjutkan penanganan perkara karena korban telah menyampaikan pengaduan.

Andros menjelaskan, pihaknya berkoordinasi dengan Satreskrim Polresta Manado untuk menyerahkan penanganan kasus tersebut kepada penyidik setempat.

Diketahui sebelumnya, Insiden yang terjadi sekitar pukul 02.30 WITA itu diduga bermula ketika pria tersebut menabrak traffic cone dan rambu larangan di depan kantor pemasaran Megamas.

Saat Risky menegurnya, pengemudi itu justru diduga mengejar sekuriti tersebut menggunakan mobil.

Risky mengaku awalnya melihat kendaraan itu menabrak fasilitas lalu lintas. Ia kemudian membuntuti mobil tersebut dengan sepeda motor hingga berpapasan di sekitar Cafe Mistik.

Risky menghentikan kendaraan itu dan meminta pengemudinya menurunkan kaca. Namun, teguran tersebut justru memicu ketegangan.

“Tiba-tiba dia bilang, ‘Oh, saya tabrak aset, ya?’ Kemudian dia mundurkan mobilnya lalu hendak menabrak saya. Selanjutnya saya lari dan dia mengejar dari belakang memakai mobil,” ungkap Risky saat ditemui di kediaman ayahnya, Sabtu pagi.

Menurut Risky, pengejaran berlanjut dari Cafe Mistik, melewati belakang Mie Gacoan, hingga ke depan Hotel Wish Prime. Ia merasa terancam karena pengemudi itu diduga berulang kali mengarahkan mobil ke arahnya.

“Karena dia begitu bertekad menabrak, mobilnya secara brutal menabrak papan petunjuk lalu lintas. Saya terus melaju mencari rekan kerja karena hampir dia tabrak buta-buta dari belakang,” tuturnya.

Risky kemudian menuju pintu kawasan untuk menghindari bahaya. Sejumlah sekuriti lain turut menghadang mobil tersebut di sekitar area depan klenteng.

Di lokasi itu, pengemudi tersebut mengaku sebagai adik Kapolda, menurut penuturan Risky.

“Dalam kondisi mabuk berat, dia bilang, ‘Kalian mau lapor ke Kapolres dan Kapolda, ya? Saya ini adik Kapolda. Silakan lapor,’” kata Risky menirukan ucapan pria tersebut.

Risky juga menyebut pria itu mengenakan kaus bertuliskan Siloam. Namun, ia belum dapat memastikan identitas maupun status pekerjaan pengemudi tersebut.

Setelah insiden itu, pria tersebut sempat menyatakan kesediaannya mengganti kerusakan fasilitas. Ia meminta manajemen mengeluarkan surat resmi untuk keperluan tersebut.

Tak lama berselang, kakak pria itu datang menjemputnya. Menurut informasi yang diterima Risky dari leader sekuriti, pihak keluarga juga menyampaikan permintaan maaf kepada petugas.

Sementara itu, mobil listrik Denza yang digunakan pengemudi tersebut sempat ditinggalkan di depan kawasan Milenium. Risky mengaku tidak mengetahui apakah kendaraan itu masih berada di sana atau sudah diambil.

Terpisah, Kamrin, ayah Risky yang berprofesi sebagai wartawan desk Polda Sulut, mendesak manajemen Megamas menindaklanjuti insiden tersebut. Ia meminta pihak terkait menempuh jalur hukum jika menemukan indikasi tindak pidana.

Menurut Kamrin, keselamatan pekerja harus menjadi prioritas, terlepas dari jabatan maupun hubungan keluarga yang diklaim seseorang.

“Ini tindakan yang sesungguhnya harus diselidiki. Tolong manajemen proses hukum itu. Saya tidak pusing mau dia adik Kapolda atau adik Presiden. Kalau ada indikasi membahayakan nyawa orang, harus diproses hukum,” tegasnya. (***)

Valentino

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.